Friday, 1 December 2017

Diam-diam wanita itu mati

Diam diam ada bunga yang mekar dipagi hari, diam diam ada selembar daun yang berselimut pada kasarnya tanah di tengah malam.

kita hidup diantara kediam diaman alam semesta yang jarang kita sadari. entah itu tentang tumbuh ataupun mati. seperti sebuah organ pada manuasia yang dititipkan Tuhan pada tiap tiap manusia.

Hati ? ya benar. diam diam ada rindu dibalik kerasnya hati seorang yang sifatnya kasar
Rindu didalam hati seperti udara dingin menghantap kulit ketika matahari sudah tak mampu menghangatkan, merinyut.

dan kadang lucunya hati tak bisa dijelaskan. diam diam mulut berkata tidak rindu. diam diam lagi ada malu yang muncul tatkala rindu dipertnyakan.
lagi lagi diam diam. lucu.

Diam diam ada wanita keluar ditengah malam, kemudian duduk diantara diamnya malam.
Ditemani suara daun daun yang berhantaman dari benturan benturan kecilnya. diam diam mengenang.

Kemudian mati diantara kesaksian tentang rindu, yang ia nyatakan malam itu.

 Diantara hidup kita, ada diam diam yang jarang untuk bisa disadari, dan diam diam aku mencuri perhatian lewat tulisan tulisan ini. dan ketika aku menulis ini ada waktu yang diam diam mencuri waktuku. sudah, waktunya tidur !

Thursday, 28 September 2017

Nikmatilah.

Tulisan ini aku ciptakan sebagai salam perpisahan.

Hidup ibarat bermain diarena tinju, dimana umur kita hidup adalah durasi pertandingannya.

Sulit atau mudahnya pertandingan tergantung pada bagaimana cara kita memukul dan menghindar. 

Aku tau bagaimana rasanya ketika dipukul oleh musuh dengan hantaman keras.
Aku tau bagaimana rasanya hidup dalam sebuah pertandingan.

Aku berpesan ;
ketika kau dipukul nikmati rasanya, kemudian pelajari.
Ketika kau memukul, pukul dengan sekeras kerasnya. Hancurkan musuhmu.

Hahahah. Kamu takut kalah ?
Jangan takut, semuanya tidak dinilai hanya pada pukulan. Poin paling pentingnya adalah bagaimana ketika kau dipukul, jatuh. Kemudian kau bangun dan siap menerima pukulan selanjutnya. Hadapi !

Bawa selembar kertas berisikan cita-citamu ke arena tinju agar kau jatuh. Kau punya alasan untuk tetap berdiri.

Rita
Uswah
Selly chrisna
Amelia
Muhammad nuril
Wirdatun nafisah
Rina durrotal badi'ah
Dewi maspufah
Ayu rahmania lestari
Hardini rahma
Sintakholifah
Khoirul faqih
Rizqy annis
Elok putri
Hanistah vita
Dinda malik
Dina agustina
Novia cahyani
Trialismawati
Siti cholifah
Reka nanda

Tuesday, 26 September 2017

Tentang Ego

Belajar dari pra-perancangan dalam bidang arsitektur. Sebelum men design sebuah bangunan, para arsitek dituntut untuk mengenyampingkan ego kemudian belajar tentang bangunan yang akan di designnya.

Setiap manusia memiliki ego, entah itu besar maupun kecil. Tergantung bagaimana bisa orang menjaganya. Dan arsitek adalah manusia biasa yang memiliki ego tentunya.

Namun, aku belajar dari hal sesederhana pra-perancangan. Dalam hal jodoh maupun hasil kita harus menjadi para arsitek yang mengenyampingkan ego agar dapat hasil yang memuaskan. Bagaimana mungkin orang yang mengedepankan ego mendapat jodoh yang dapat menjaga ego. Mungkin ada, tapi hanya sebagian kecil.

Sebesar besarnya cita citamu, setinggi tingginya mimpimu. Kau harus belajar mengenyampingkan ego kemudian beranjak dari tempat yang tinggi lalu merendah. Entah itu tentang egomu pada orang tua, teman, cinta, maupun tentang bahagia.

Untuk apa kita punya jabatan tinggi, kemudian punya mimpi di genggaman tangan namun ego masih menjadi hal yang utama dalam diri.

#RUANGPRODUCTIVE

Sunday, 24 September 2017

Ketika sakit melanda

Aku pernah ditelan sakit berhari-hari, Bersama matahari yang mulai redup. Aku menjalaninya dengan penuh kegigihan, teman terbaikku selalu mendorong dari belakang sembari mengucap doa ke langit untuk melobby kepada yang Maha tinggi agar sakitku dimudahkan.

Ada kejadian aneh, kala itu Tuhan tidak menjawab doaku. Aku hampir saja kecewa.
Obatku, yang selama ini menjadi andalan tak kunjung memberi secerca harapan untuk menjadi baik dikeesokan hari.

Aku yang tinggal jauh dari orang tuaku, disebabkan tempat kuliah ku dan rmh org tuaku yang lumayan jauh.

Kemudian aku memutuskan untuk pulang, pada tangan yang membesarkanku, pada peluk yang menghangatkan ku, pada suapan suapan masakan ibu.
Lucunya, ketika ibuku mendengar kabar sakitku. Ia hanya memberi segelas teh hangat sebelum aku tidur kemudian mngajak ku bicara  setelahnya. Sampai kemudian aku tertidur, mendengar ia bicara seperti aku didongengkan , sudah lama aku tak merasakan hal ini.

Entah kenapa, esok pagi. Aku bangun lebih awal.

Demamku,
pusingku,
lelahku,
hilang.

Semua hilang tanpa aba aba. Sepertinya Tuhan menjawab doaku dengan cara yang lebih sempurna. Telah Ia hadirkan sebuah obat sedari dulu bernama "Ibu" dengan segala lebih dan kurangnya.

Untuk manusia selemah aku, cita cita adalah sebuah impian yang harus kita dirikan diteriknya masalah dunia. Namun berbakti pada "Ibu" adalah sebuah perintah yang jauh lebih harus ditegakkan bahkan dari besarnya cita-citamu.

Ketika jalanmu sudah terlalu jauh dan pekat. Sulit untuk kakimu melangkah, kembali lah. Ibu dan ayah mu sepertinya sedang rindu. Temui mereka disepiring obrolan pembuka duniamu, dengan penuh cinta.

#ruangpriductive

Saturday, 23 September 2017

Pembohong

Seperti matahari yang enggan tuk tenggelam, aku disini berdiri hampir mati menunggu mu yang tak kembali. Lupa kah kau tentang apa yang kau tulis di selembar kertas waktu itu, apa yang telah kau ucapkan kala pagi masih berkelut dengan embunnya.

Kau pembohong.

Tulisan itu hanya penenang untuk ku kala itu bukan !
Sudah lah, ku biarkan semuanya berlalu seperti hujan yang tetap jatuh walau tanpa aba-aba.
Aku yang kini tinggal 2 langkah dibelakangmu, maaf jika aku terlihat mengganggu. 
Yang ku kerjakan kini hanya mengeja kembali kalimat yang kau tulis diselembar kertas itu, merobek perasaan luka yang muncul kala melihat kau berselimut bahagia darinya.

Darinya yang kau anggap raja bagi istana hatimu. Dan aku budak yang siap menutup lubang bahagia hanya untuk tetap berada 2 langkah dibelakangmu.

Selamat pagi, wahai kau sang perobek hati.
#ruagproductive

Saturday, 9 September 2017

Diam ku


Dalam ucap aku menatap, pada sepasang mata yang tak pernah menganggap.

Aku yang tinggal dalam malam,
kemudian memendam,
Dan hanya bisa tinggal diam.
Sembari menyusun puing puing hati ,
Yang tak lagi tertata rapi.

Patah.

Lelah.

Tak terjamah.

Kemudian aku mengaku kalah.

Untuk sebuah tanggap yang ku tunggu.
Aku merindu. Menunggu hadirmu.

Aku dan diamku, ada cinta untukmu.
Dan kau yang disitu, tak pernah tau. Ada aku !

#RUANGPRODUCTIVE

Sunday, 23 July 2017

Selesai

Akan tiba masanya, ajal datang.

Semua orang takut akan hal itu, begitupun aku.

Ku temui wajahku didepan cermin, aku bertanya padanya Kapan ajalku tiba,
Kemudia ia diam, seolah mempertanyakannya kembali padaku.

Ku temui hartaku yang ku simpan sejak lama, aku bertanya padanya, Kapan ajalku tiba ?
Kemudian ia diam, seolah mengisyaratkan seharusnya ia di sedekahkan.

Ku temui amalku? Aku bertanya padanya ;kapan ajalku tiba ?
Kemudian ia hanya diam, seolah mengisyaratkan seharusnya ia selalu ditambahkan.

Ku temui anggota tubuhku, aku bertanya siapa diantara kalian yang paling dekat dariku selain Mati. Tak ada satupun yang menjawab, hanya ada hembusan nafas yang ku dengar.

Bahkan nadi-ku pun hanya diam, ku kira ia adalah yang paling dekat

Belum sempat aku menarik nafas selanjutnya.

Ajal datang, aku selesai.

Allah SWT berfirman:

اِقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ مُّعْرِضُوْنَ

Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka (mati), sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat)
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 1)

Thursday, 20 July 2017

Ikhlas

Tuhan menghadirkan "CINTA" untuk mengajarkan kita tentang ikhlas.

Seperti kucing kesayangan kita yang mati, yang harus kita lakukan hanyalah meng-ikhlasan.

Seperti bunga bungas ditaman yang harus layu pada waktunya, yang harus kita lakukan hanyalah meng-ikhlaskan.

Akan tiba waktunya dimana kita belajar untuk meng-ikhlaskan. Entah itu tentang mengikhlaskan benda kesayangan, moment kesayangan, ataupun orang-orang yang kita sayangi. Ia kembali pada pencipta-Nya.

Setelah semuanya pergi hanya akan ada kenangan dan rasa ke-ikhlasan kita yang tetap tinggal.

Seperti tulisan ini, yang akan habis. Kemudian aku hanyalah bisa meng-ikhlaskan.

Saturday, 1 July 2017

Untuk mu

Untuk mu
Untuk mu yang masih menjadi rahasia Tuhan.
Sadarkah bahwa Tuhan adalah sebaik-baiknya penulis?
Matahari yang beredar sesuai orbitnya, air yang jatuh kemudian meninggi lagi (Hujan)
Cuaca silih berganti.
Angin yang datang kemudian pergi lagi.
Semuanya beraturan bukan ?
Lantas apa lagi yang kita khawatirkan tentang scenario-Nya
Aku percaya kita pun akan menjadi seperti itu kelak, disuatu waktu yang tepat, disebuah tempat yang tepat pula. Kita akan dipertemukan dengan keteraturan.
Bairkan detik demi detik kita habiskan sendiri untuk mengharap Ridho-Nya yang kemudian detik demi detik kita akan diantarkan pada pertemuan oleh Sang Maha Tinggi.
Akan ku siapkan diriku sebaik mungkin, yang ku yakin dirimu juga.
Agar suatu saat nanti kita bisa sama sama berlari untuk-Nya.

Thursday, 30 March 2017

Andai Saja

Oh iya sekarang gue udah menjadi seorang mahasiswa, bukan siswa biasa yang duduk dibangku SMP ataupun SMA, jadi mahasiswa banyak suka dukanya sih, ya pastinya gue udah beranjak semakin dewasa, menjadi manusia yang menuju fase dewasa sepertinya tidak senyaman ketika pikiran kita saat kecil yang kepingin cepat dewasa, ternyata berat kalo bisa milih mending gue jadi anak kecil aja deh tapi kalo gue jadi anak kecil terus gue gak bisa nulis ini sekarang, gue gak bisa tau dunia dunia baru, gue gak bisa melihat wajah ganteng gue ketika dewasa hehe. Ketika kecil, biasanya es cream bisa nenangin gue dan menghapus air mata gue, sekarang 10 es cream sekali pun tidak bisa menyelesaikan masalah gue ketika dewasa, tapi gue bersyukur dengan semua hal yang terjadi. 

Udah lama banget gue gak nulis lagi di blog jadi rada bingung sedikit sih harus gimana gimana gituh, beberapa bulan yang lalu kondisi keluarga gue lagi kacau yaaa masalahanya adalah kadang biasanya kalo lagi ada masalah dirumah gue suka gak pulang kerumah, gue ngumpet di kos gue yang ada di Banjarbaru kadang suka gak pulang kalo lagi ada masalah, ya sebenernya sih bisa dibilang gue lari dari masalah itu ya tapi mau gimana lagi, gue juga punya tanggung jawab buat tugas tugas kuliah, sama jemuran jemuran dikos yang belum di cuci juga, kalo gue terus dirumah mikirin masalah yang dirumah kayanya gue gak bisa fokus sama tugas kuliah jadi gue lebih mending kabur dan biarin waktu yang nyelesainnya. 

Entah selesai atau tidak gue kagak tau, gue takut sebenernya kalo mikirin masalah itu, ya mungkin kalo gak tau masalahnya apa kalian rada bingung baca tulisan ini tapi kayaknya gue gak bisa ceritain semuanya disini. Gue gak pernah cerita sama siapapun sebelumnya tentang alasan gue lebih betan di kos dari pada dirumah untuk saat ini. Gue orang nya anti banget sama perubahaan ya mungkin itu karna sifat gue masih belum dewasa seperti umur gue yang seharusnya gue masih labih, masih kaya anak kecil yang suka maksain kehendak gue sendiri. Gue masih suka bilang mau ini mau ini mau ini tanpa pikir panjang untuk kedepan. Sampai sekarang gue masih bingung gimana berdamai pada rumah. 

Suatu saat ketika gue bertengkar sama pacar. gue pernah bilang mau “bisa gak hubungan kita tetap kaya dulu lagi ?” ketika itu gue bilang nya sepontan aja gitu gak mikirin aktifitas gue dan pacar gue yang udah mulai berbeda dan gak kaya dulu lagi, mestinya gue bisa nerima keadaan yang sekarang biar gue bisa berdamai sama hubungan gue. Setelah gue ngomong hal itu lantas cewe gue bilang “kamu itu egois, kaya anak kecil” Kemudian gue hanya diam mencoba mencerna kalimatnya dengan tenang, bersama sifat kekanak kanakan gue yang masih kental. 

 Mungkin itu alasan kenapa gue gak bisa bersahabat dengan keadaan gue sekarang, setelah mencoba tenang kemudian gue mendengar bunyi jam yang berdetak seperti meng-iyakan bahsawannya gue memang kekanak-kanakan. Sampai saat ini gue mencoba mencari damai gue sendiri seperti mencoba menikmati senja dengan tenang kemudian meneguk segelas kopi ketika malam hanya menyisakan gue sendirian yang tak bisa berdamai pada rumah. Tapi tetap, gue tetap mencintai rumah. Andai sekekarang gue udah dewasa. . . .