Sunday, 24 September 2017

Ketika sakit melanda

Aku pernah ditelan sakit berhari-hari, Bersama matahari yang mulai redup. Aku menjalaninya dengan penuh kegigihan, teman terbaikku selalu mendorong dari belakang sembari mengucap doa ke langit untuk melobby kepada yang Maha tinggi agar sakitku dimudahkan.

Ada kejadian aneh, kala itu Tuhan tidak menjawab doaku. Aku hampir saja kecewa.
Obatku, yang selama ini menjadi andalan tak kunjung memberi secerca harapan untuk menjadi baik dikeesokan hari.

Aku yang tinggal jauh dari orang tuaku, disebabkan tempat kuliah ku dan rmh org tuaku yang lumayan jauh.

Kemudian aku memutuskan untuk pulang, pada tangan yang membesarkanku, pada peluk yang menghangatkan ku, pada suapan suapan masakan ibu.
Lucunya, ketika ibuku mendengar kabar sakitku. Ia hanya memberi segelas teh hangat sebelum aku tidur kemudian mngajak ku bicara  setelahnya. Sampai kemudian aku tertidur, mendengar ia bicara seperti aku didongengkan , sudah lama aku tak merasakan hal ini.

Entah kenapa, esok pagi. Aku bangun lebih awal.

Demamku,
pusingku,
lelahku,
hilang.

Semua hilang tanpa aba aba. Sepertinya Tuhan menjawab doaku dengan cara yang lebih sempurna. Telah Ia hadirkan sebuah obat sedari dulu bernama "Ibu" dengan segala lebih dan kurangnya.

Untuk manusia selemah aku, cita cita adalah sebuah impian yang harus kita dirikan diteriknya masalah dunia. Namun berbakti pada "Ibu" adalah sebuah perintah yang jauh lebih harus ditegakkan bahkan dari besarnya cita-citamu.

Ketika jalanmu sudah terlalu jauh dan pekat. Sulit untuk kakimu melangkah, kembali lah. Ibu dan ayah mu sepertinya sedang rindu. Temui mereka disepiring obrolan pembuka duniamu, dengan penuh cinta.

#ruangpriductive

No comments:

Post a Comment