Thursday, 28 September 2017

Nikmatilah.

Tulisan ini aku ciptakan sebagai salam perpisahan.

Hidup ibarat bermain diarena tinju, dimana umur kita hidup adalah durasi pertandingannya.

Sulit atau mudahnya pertandingan tergantung pada bagaimana cara kita memukul dan menghindar. 

Aku tau bagaimana rasanya ketika dipukul oleh musuh dengan hantaman keras.
Aku tau bagaimana rasanya hidup dalam sebuah pertandingan.

Aku berpesan ;
ketika kau dipukul nikmati rasanya, kemudian pelajari.
Ketika kau memukul, pukul dengan sekeras kerasnya. Hancurkan musuhmu.

Hahahah. Kamu takut kalah ?
Jangan takut, semuanya tidak dinilai hanya pada pukulan. Poin paling pentingnya adalah bagaimana ketika kau dipukul, jatuh. Kemudian kau bangun dan siap menerima pukulan selanjutnya. Hadapi !

Bawa selembar kertas berisikan cita-citamu ke arena tinju agar kau jatuh. Kau punya alasan untuk tetap berdiri.

Rita
Uswah
Selly chrisna
Amelia
Muhammad nuril
Wirdatun nafisah
Rina durrotal badi'ah
Dewi maspufah
Ayu rahmania lestari
Hardini rahma
Sintakholifah
Khoirul faqih
Rizqy annis
Elok putri
Hanistah vita
Dinda malik
Dina agustina
Novia cahyani
Trialismawati
Siti cholifah
Reka nanda

Tuesday, 26 September 2017

Tentang Ego

Belajar dari pra-perancangan dalam bidang arsitektur. Sebelum men design sebuah bangunan, para arsitek dituntut untuk mengenyampingkan ego kemudian belajar tentang bangunan yang akan di designnya.

Setiap manusia memiliki ego, entah itu besar maupun kecil. Tergantung bagaimana bisa orang menjaganya. Dan arsitek adalah manusia biasa yang memiliki ego tentunya.

Namun, aku belajar dari hal sesederhana pra-perancangan. Dalam hal jodoh maupun hasil kita harus menjadi para arsitek yang mengenyampingkan ego agar dapat hasil yang memuaskan. Bagaimana mungkin orang yang mengedepankan ego mendapat jodoh yang dapat menjaga ego. Mungkin ada, tapi hanya sebagian kecil.

Sebesar besarnya cita citamu, setinggi tingginya mimpimu. Kau harus belajar mengenyampingkan ego kemudian beranjak dari tempat yang tinggi lalu merendah. Entah itu tentang egomu pada orang tua, teman, cinta, maupun tentang bahagia.

Untuk apa kita punya jabatan tinggi, kemudian punya mimpi di genggaman tangan namun ego masih menjadi hal yang utama dalam diri.

#RUANGPRODUCTIVE

Sunday, 24 September 2017

Ketika sakit melanda

Aku pernah ditelan sakit berhari-hari, Bersama matahari yang mulai redup. Aku menjalaninya dengan penuh kegigihan, teman terbaikku selalu mendorong dari belakang sembari mengucap doa ke langit untuk melobby kepada yang Maha tinggi agar sakitku dimudahkan.

Ada kejadian aneh, kala itu Tuhan tidak menjawab doaku. Aku hampir saja kecewa.
Obatku, yang selama ini menjadi andalan tak kunjung memberi secerca harapan untuk menjadi baik dikeesokan hari.

Aku yang tinggal jauh dari orang tuaku, disebabkan tempat kuliah ku dan rmh org tuaku yang lumayan jauh.

Kemudian aku memutuskan untuk pulang, pada tangan yang membesarkanku, pada peluk yang menghangatkan ku, pada suapan suapan masakan ibu.
Lucunya, ketika ibuku mendengar kabar sakitku. Ia hanya memberi segelas teh hangat sebelum aku tidur kemudian mngajak ku bicara  setelahnya. Sampai kemudian aku tertidur, mendengar ia bicara seperti aku didongengkan , sudah lama aku tak merasakan hal ini.

Entah kenapa, esok pagi. Aku bangun lebih awal.

Demamku,
pusingku,
lelahku,
hilang.

Semua hilang tanpa aba aba. Sepertinya Tuhan menjawab doaku dengan cara yang lebih sempurna. Telah Ia hadirkan sebuah obat sedari dulu bernama "Ibu" dengan segala lebih dan kurangnya.

Untuk manusia selemah aku, cita cita adalah sebuah impian yang harus kita dirikan diteriknya masalah dunia. Namun berbakti pada "Ibu" adalah sebuah perintah yang jauh lebih harus ditegakkan bahkan dari besarnya cita-citamu.

Ketika jalanmu sudah terlalu jauh dan pekat. Sulit untuk kakimu melangkah, kembali lah. Ibu dan ayah mu sepertinya sedang rindu. Temui mereka disepiring obrolan pembuka duniamu, dengan penuh cinta.

#ruangpriductive

Saturday, 23 September 2017

Pembohong

Seperti matahari yang enggan tuk tenggelam, aku disini berdiri hampir mati menunggu mu yang tak kembali. Lupa kah kau tentang apa yang kau tulis di selembar kertas waktu itu, apa yang telah kau ucapkan kala pagi masih berkelut dengan embunnya.

Kau pembohong.

Tulisan itu hanya penenang untuk ku kala itu bukan !
Sudah lah, ku biarkan semuanya berlalu seperti hujan yang tetap jatuh walau tanpa aba-aba.
Aku yang kini tinggal 2 langkah dibelakangmu, maaf jika aku terlihat mengganggu. 
Yang ku kerjakan kini hanya mengeja kembali kalimat yang kau tulis diselembar kertas itu, merobek perasaan luka yang muncul kala melihat kau berselimut bahagia darinya.

Darinya yang kau anggap raja bagi istana hatimu. Dan aku budak yang siap menutup lubang bahagia hanya untuk tetap berada 2 langkah dibelakangmu.

Selamat pagi, wahai kau sang perobek hati.
#ruagproductive

Saturday, 9 September 2017

Diam ku


Dalam ucap aku menatap, pada sepasang mata yang tak pernah menganggap.

Aku yang tinggal dalam malam,
kemudian memendam,
Dan hanya bisa tinggal diam.
Sembari menyusun puing puing hati ,
Yang tak lagi tertata rapi.

Patah.

Lelah.

Tak terjamah.

Kemudian aku mengaku kalah.

Untuk sebuah tanggap yang ku tunggu.
Aku merindu. Menunggu hadirmu.

Aku dan diamku, ada cinta untukmu.
Dan kau yang disitu, tak pernah tau. Ada aku !

#RUANGPRODUCTIVE